Pages

Ads 468x60px

Labels

Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

18 April 2013

SKL 14 IPA SMP

SKL 14 Mengaplikasikan konsep pertumbuhan dan perkembangan, kelangsungan hidup dan pewarisan sifat pada organisme serta kaitannya dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
 A. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA MAKHLUK HIDUP
Pertumbuhan adalah peristiwa perubahan ukuran (volume)pada makhluk yang terjadi selama masa hidupnya sebagai akibat dari perbanyakan sel ke keadaan semula ukuran sel yang tidak dapat balik ke keadaan semula (irreversible).
Perkembangan adalah suatu proses perkembangan makhluk hidup menuju tingkat kedewasaan yang di tandai dengan adanya perubahan struktur dan fungsi masing- masing organ tubuh hingga perubahan yang terjadi semakin kompleks.
1. Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan Pertumbuhan pada tumbuhan dapat di bedakan menjadi dua: a. Pertumbuhan primer disebabkan oleh pembelahan sel- sel pada jaringan meristem yang berada pada ujung akar dan pucuk tunas batang (meristem apikal). b. Pertumbuhan sekunder disebabkan oleh pembelahan sel-sel meristem lateral atau kambium yang menyebabkan tanaman tumbuhan tumbuh ke samping atau membesar. 2. Pertumbuhan dan perkembangan pada hewan dan manusia a. Perkembangan pada hewan Pertumbuhan dan perkembangan manusia dan hewan berawal dari terbentuknya zigot, yang berupakan hasil peleburan antara sel sperma dengan sel telur (ovem). Zigot tumbuh menjadi embrio, kemudian tumbuh menjadi individu baru seperti kedua induknya. b. Perkembangan pada manusia Perkembangan manusia dimulai sejak bayi, balita, kemudian digantikan dengan masa anak- anak. Pertumbuhan fisik mulai meningkat, baik tinggi badan maupun berat badan, juga terjadi perkembangan koordinasi gerak otot dan kemampuan dan kemampuan mentak. Anak- anak kemudian masuk ke masa pubertas yang di mulai pada usia 8-13 tahun pada wanita, dan usia 13-15 tahun untuk laki- laki. Pada masa ini, organ reproduksi mulai berkembang dan muncul tanda- tanda perkembangan sekunder. Remaja akan beranjak dewasa dan memasuki masa tua usia 30-50 tahun. Pertumbuhan otot dan tulang sudah berhenti, artinya sudah tidak dapat bertambah tinggi lagi. Selama usia ini perkembangan fisik mulai mengalami penurunan. Pada umur 65-74 tahun adalah pertengahan lanjut usia. Di usia ini seorang sudah harus beristirahat dari kesibukan kerja. Usia di atas 75 tahun di sebut lanjut usia, untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, sebagai besar orang lanjut usia memerlukan bantuan orang lain. 3. Metagenesis danMetamorfosis a. Metagenesis Peristiwa pergiliran dari generasi sporofit ke generasi gametofit dan sebaik nya di sebut metagenesis. Tumbuhan spora dan dapat disebut tumbuhan diploid karena zigot di hasilkan dari peluburan antara sel kelamin jantan dan betina. Contoh organisme yang mengalamimetagenesis adalah tumbuhan lumut dan tumbuhan paku. Metagenenisis adalah tumbuhan lumut dantumbuhan paku.

14 September 2012

Materi Energi

Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha.
1. Energi Kimia
Makanan, bahan bakar minyak, gas minyak tanah, gas alam dan bahan-bahan kimia memiliki energi kimia.

2. Energi Potensial
Energi yang dimiliki oleh suatu benda karena posisi atau kondisinya disebut energi potensial.

3. Energi Kinetik
Energi yang dimiliki benda karena kecepatannya disebut energi kinetik.
4. Energi lainnya
Bentuk energi lainnya, meliputi: energi listrik, kalor, energi bunyi, energi cahaya, energi magnet, dan energi nuklir (inti).

Hukum Kekekalan Energi
Energi tidak dapat diciptakan dan juga tidak dapat dimusnahkan yang ada hanyalah perubahan dari satu bentuk ke bentuk tenaga yang lain.

Energi Mekanik
Sebuah benda bergerak ke bawah dengan kecepatan tertentu (v) pada ketinggian h di atas tanah. Benda tersebut mempunyai energi kinetik dan mempunyai energi potensial.

Jumlah kedua energi tersebut dinamakan energi mekanik (EM) (energi kinetik dan energi potensial).

Materi Gaya

Gaya dapat menyebabkan terjadinya perubahan gerak, dari kecepatan tinggi menjadi rendah atau berhenti, atau dari diam menjadi bergerak. Gaya dapat merubah bentuk benda yang menderita/mengalami gaya. Dorongan atau tarikan merupakan gaya yang mempunyai arah. Oleh karena itu gaya termasuk besaran yang mempunyai arah. Besaran yang mempunyai arah disebut besaran vektor.
Dalam sistem Satuan Internasional satuan gaya adalah newton (N).
Satuan gaya selain newton adalah dyne. 1 N = 10^5 dyne.


Dua gaya atau lebih yang segaris dapat dijumlahkan sehingga mendapatkan sebuah gaya resultan. Gaya-gaya searah diberi tanda positif, gaya yang melawan gaya positif diberi tanda negatif.

Gaya gesekan pada benda tergantung pada kasar atau halusnya permukaan benda yang bersinggungan.
Gaya gesekan yang dialami benda yang bergerak disebut gaya gesekan kinetik. Besarnya gaya gesekan kinetik lebih kecil dibanding gaya gesekan statik.

Berat didefinisikan sebagai gaya tarik yang dialami oleh benda karena tarikan bumi, berat benda  ketika di bumi adalah gaya tarik bumi pada benda tersebut.

Percepatan gravitasi rata-rata di permukaan bumi dari perhitungan maupun percobaan 9,8 m/s2.

Massa didefinisikan sebagai banyaknya zat yang dikandung oleh benda itu.

Sir Isaac Newton mengemukakan dalam hukumnya yang pertama sehingga disebut hukum I Newton (hukum kelembaman Newton), bahwa Benda yang diam cenderung diam, benda yang bergerak cenderung bergerak dengan kecepatan tetap apabila resultan gaya pada benda tersebut sama dengan nol seimbang. atau
Jika resultan gaya yang bekerja pada benda nol, maka benda tersebut dalam keadaan diam atau bergerak dengan kecepatan tetap. Konsep diam menjadi sangat penting apabila kita berbicara tentang keseimbangan.

Hukum Newton II : Percepatan yang timbul pada sebuah benda sebanding dan searah dengan resultan gaya serta berbanding terbalik dengan massa.

20 Mei 2011

Perangkat Pembelajaran Biologi

Rencana pembelajaran Mata Pelajaran Biologi kelas X : (klik disini)

1. Silabus
2. Prota & Promes
3. RPP

28 Januari 2011

MASSA JENIS


Untuk menentukan massa jenis suatu zat dapat dilakukan dengan melakukan membagi massa zat dengan volume zat. Jika massa jenis zat ρ (baca rho), massa zat m dan volume zat V maka diperoleh persamaan:



Keterangan:
ρ = massa jenis zat (Kg/m3)
m = massa zat (kg)
V = volume zat (m3)

Perbandingan antara massa zat dengan volume zat disebut massa jenis.
Massa jenis menunjukkan kerapatan suatu zat.
Satuan massa jenis dalam SI adalah kg/m3.
massa jenis air 1000 kg/m3 = 1 g/cm3
Massa jenis zat cair dapat diukur langsung dengan menggunakan hidrometer.
Mengapa aluminium digunakan untuk bahan pembuatan pesawat terbang? Mengapa polystyrene digunakan sebagai bahan mebeleir? Tahukah kamu alasannya?
Aluminium bersifat kuat dan memiliki massa yang kecil sehingga ringan tidak seperti logam-logam lainnya misalnya, besi. Polystyrene memiliki massa yang cukup rendah dan massa jenis rendah. Hal ini mengandung makna polystyrene digunakan sebagai bahan mebeleir yang menempati ruangan luas tetapi massanya cukup rendah.
Tahukah kamu mengapa kapal selam dapat terapung dan tenggelam di air? Ketika terapung massa jenis total kapal selam lebih kecil dari air laut dan sewaktu tenggelam massa jenis total kapal selam lebih besar dari air laut. Kapal selam memiliki tangki pemberat yang berisi air dan udara. Tangki tersebut terletak di antara lambung kapal sebelah dalam dan luar. Tangki dapat berfungsi membesar atau memperkecil massa jenis total kapal selam. Ketika air laut dipompa masuk ke dalam tangki pemberat, massa jenis kapal selam lebih besar dan sebaliknya agar massa jenis total kapal selam menjadi kecil, air laut dipompa keluar.
Pernahkah kamu melihat balon udara? Tahukah kamu, gas apa yang terdapat di dalamnya? Balon gas berisi gas helium. Gas helium memiliki massa jenis yang lebih kecil dari udara, sehingga balon gas bisa naik ke atas.

10 Desember 2010

Ringkasan Materi Alat-alat Optik

Bagian-bagian penting dari mata :
* Kornea : lapisan being paling luar
* Iris : pengatur lebar celah pupil
* Pupil : celah pada iris yang memungkinkan cahaya masuk ke lensa mata
* Lensa mata : membiaskan cahaya yang masuk ke mata
* Retina : tempat pembentukan bayangan

Bayangan yang terbentuk pada retina mata adalah nyata, terbalik dan diperkecil.

Cacat Mata :
* Rabun jauh (myopi) : cacat mata dengan PR (punctum remotum) kurang dari mata normal (25 cm) dan dapat diatas dengan lensa cekung
* Rabun dekat (hypermetropi) : cacat mata dengan PP (punctum proximum) lebih dari mata normal (tak hingga) dan dapat diatas dengan lensa cembung
* Mata tua (presbiopi) : cacat mata dengan PR kurang dari normal dan PP lebih dari normal dan diatasi dengan kacamata lensa ganda
* Astigmatisma : cacat mata karena bentuk kornea mata yang tidak sferis (bola) dan diatasi dengan lensa silindris.

09 Desember 2009

SKL 2010

Berikut SKL SMP/MTs dan SMA/MA tahun 2010, silahkan klik link dibawah ini:

06 Juni 2009

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING

Problem posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut.
Dalam pembelajaran matematika, problem posing (pengajuan soal) menempati posisi yang strategis. Siswa harus menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara mendetil. Hal tersebut akan dicapai jika siswa memperkaya khazanah pengetahuannya tak hanya dari guru melainkan perlu belajar secara mandiri. Problem posing dikatakan sebagai inti terpenting dalam disiplin matematika. Silver dan Cai menulis bahwa ”Problem posing is central important in the discipline of mathematics and in the nature of mathematical thinking”.
Suryanto menjelaskan tentang problem posing adalah perumusan soal agar lebih sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dikuasai. Hal ini terutama terjadi pada soal-soal yang rumit. (Pujiastuti, 2001:3)
Model pembelajaran problem posing ini mulai dikembangkan di tahun 1997 oleh Lyn D. English, dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Selanjutnya, model ini dikembangkan pula pada mata pelajaran yang lain.
Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri.
Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai berikut.
a. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk memperjelas konsep sangat disarankan.
b. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
c. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara kelompok.
d. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.
e. Guru memberikan tugas rumah secara individual.
(Suyitno, 2004:31-32).
Silver dan Cai mnjelaskan bahwa pengajuan soal mandiri dapat diaplikasikan dalam 3 bentuk aktivitas kognitif matematika yakni sebagai berikut.
a. Pre solution posing
Pre solution posing yaitu jika seorang siswa membuat soal dari situasi yang diadakan. Jadi guru diharapkan mampu membuat pertanyaan yang berkaitan dengan pernyataan yang dibuat sebelumnya.
b. Within solution posing
Within solution posing yaitu jika seorang siswa mampu merumuskan ulang pertanyaan soal tersebut menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan penyelesaiannya seperti yang telah diselesaikan sebelumnya.jadi, diharapkan siswa mampu membuat sub-sub pertanyaaan baru dari sebuah pertanyaan yang ada pada soal yang bersangkutan.
c. Post solution posing
Post solution posing yaitu jika seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal yang baru yang sejenis.
Dalam model pembelajaran pengajuan soal (problem posing) siswa dilatih untuk memperkuat dan memperkaya konsep-konsep dasar matematika.
Dengan demikian, kekuatan-kekuatan model pembelajaran problem posing sebagai berikut.
Memberi penguatan terhadap konsep yang diterima atau memperkaya konsep-konsep dasar.
Diharapkan mampu melatih siswa meningkatkan kemampuan dalam belajar.
Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
(Suyitno, 2003:7-8).
Bagi siswa, pembelajaran problem posing merupakan keterampilan mental, siswa menghadapi suatu kondisi dimana diberikan suatu permasalahan dan siswa memecahkan masalah tersebut.
Model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) dapat dikembangkan dengan memberikan suatu masalah yang belum terpecahkan dan meminta siswa untuk menyelesaikannya (Silver, Kilpatrick dan shlesinger), pemikiran English dalam menghasilkan pertanyaan baru dari masalah matematika yang diberikan dapat menjadi aktivias utama dalam mengajukan permasalahan.
Guru matematika dalam rangka mengembangkan model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) yang berkualitas dan terstruktur dalam pembelajaran matematika, dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar berikut.
1. Pengajuan soal harus berhubungan dengan apa yang dimunculkan dari aktivitas siswa di dalam kelas.
2. Pengajuan soal harus berhubungan dengan proses pemecahan masalah siswa
3. Pengajuan soal dapat dihasilkan dari permasalahan yang ada dalam buku teks, dengan memodifikasikan dan membentuk ulang karakteristik bahasa dan tugas.
Menggunakan model pembelajaran problem posing dalam pembelajaran matematika dibutuhkan keterampilan sebagai berikut.
Menggunakan strategi pengajuan soal untuk menginvestigasi dan memecahkan masalah yang diajukan.
Memecahkan masalah dari situasi matematika dan kehidupan sehari-hari.
Menggunakan sebuah pendekatan yang tepat untuk mengemukakan masalah pada situasi matematika.
mengenali hubungan antara materi-materi yang berbeda dalam matematika.
Mempersiapkan solusi dan strategi terhadap situasi masalah baru.
Mengajukan masalah yang kompleks sebaik mungkin, begitu juga masalah yang sederhana.
Menggunakan penerapan subjek yang berbeda dalam mengajukan masalah matematika.
Kemampuan untuk menghasilkan pertanyaan untuk mengembangkan strategi mengajukan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah ini?
2. Dapatkah saya mengajukan pertanyaan yang lain?
3. Seberapa banyak solusi yang dapat saya temukan?
Memunculkan pertanyaan baru dari masalah matematika yang diberikan dianggap menjadi aktivitas utama dalam mengajukan masalah sebagaimana dijelaskan oleh English sebagai berikut.
Apakah gagasan penting dalam masalah ini?
Dimana lagi kita dapat menemukan gagasan yang sama dengan hal ini?
Dapatkah kita menggunakan informasi ini dalam satu cara yang berbeda untuk memecahkan suatu masalah?
Apakah kita cukup memiliki informasi penting untuk memecahkan masalah?
Bagaimana jika kita tidak memberikan semua informasi ini untuk membuat sebuah masalah yang berbeda?
Bagaimana mungkin kamu dapat merubah beberapa informasi ini?
Akan menjadi apakah masalah tersebut kemudian?
Rangkaian pertanyaan di atas menunjukkan apabila ada seorang guru yang tidak berpengalaman dalam mengajukan masalah dapat melakukan aktivitas bertanya tersebut.
Strategi dalam pengajuan masalah dapat dilihat dari beberapa tinjauan literatur. Strategi ini dapat diterapkan dalam mengajukan masalah tertentu. Strategi tersebut mengemukakan ”bagaimana melihat” atau menemukan masalah (Dillon). Krutetskii memanipulasi kondisi tertentu dan tujuan dari masalah yang diajukan sebelumnya. Hashimoto bertanya ”bagaimana jika”, dan ”bagaimana jika tidak” Brown Walter. Mempertimbangkan hubungan yang baru dari masalah baru (Polya). Strategi lain dalam mengajukan sebuah pertanyaan adalah untuk melihat hubungan antara informasi yang diberikan dan mengajukan sebuah pertanyaan yang mengikuti hubungan tersebut (Krutelskii). Cara melihat atau menemukan masalah sejenis dengan gabungan strategi dalam perumusan masalah (Kilpatrick). Strategi ini berada pada penemuan tingkatan masalah (Dillon). Masalah tersebut ditampilkan pada penguji coba atau orang lain yang mengajukan pertanyaan, yang perlu dilakukan penanya adalah menemukannya.
Strategi lain adalah untuk memanipulasi kondisi tertentu dan tujuan dari masalah yang diajukan sebelumnya. Ini serupa dengan penggunaan analogi dalam menghasilkan masalah baru yang terkait (Kilpatrick). dalam studi ini, terdapat dua strategi berbeda yang dikembangkan sebagai berikut.
1. Mengajukan pertanyaan mengenai masalah matematika dari masalah yang ada dalam buku pelajaran. Kilpatrick menjelaskan bahwa ada dua tahap dalam proses penyelesaian masalah selama masalah baru diciptakan. Penyelesaian masalah bisa dengan mengubah beberapa atau semua kondisi masalah untuk melihat masalah baru, apa yang mungkin dihasilkan dan setelah masalah diselesaikan. Penyelesaian masalah bisa dengan meninjau ulang bagaimana solusi dipengaruhi oleh berbagai macam permasalahan.
Strategi ini dapat dikembangkan oleh siswa sebagai berikut.
a. Memilih satu masalah dari buku pelajaran matematika atau buku LKS matematika.
b. Menentuan kondisi dari permasalahan yang diberikan dan hal yang tidak diketahui.
c. Mengubah kondisi masalah dalam dua cara yang berbeda Pertama, tambahkan lagi beberapa kondisi atau kondisi baru pada masalah asli kemudian rumuskan satu pertanyaan baru. kedua, pindahkan kondisi dari masalah asli kemudian rumuskan pertanyaan baru.
2. Mengajukan masalah matematika dari situasi yang belum terstruktur. Stoyanove menjelaskan situasi masalah yang belum terstrukstur sebagai situasi terbuka yang diberikan dan menggunakan format berikut.
a. Masalah open-ended (penyelidikan matematis).
b. Masalah yang sejenis dengan masalah yang diberikan.
c. Masalah dengan solusi serupa.
d. Masalah berkaitan dengan dalil khusus.
e. Masalah yang berasal dari gambaran yang diberikan
f. Masalah kata-kata.
Strategi ini dapat dikembangkan oleh siswa sebagai berikut.
a. Situasi kehidupan sehari-hari yang ditampilkan pada semua siswa.
b. Siswa diminta melengkapi situasi dari pandangan mereka untuk menyatakan masalahyang berasal dari situasi yang dibentuk.
c. Masing-masing siswa telah melengkapi masalah dari situasi tertentu untuk kemudian mengajukan beberapa pertanyaan dari situasi tersebut
d. Tulis semua masalah yang diajukan yang berkaitan dengan masalah tersebut.
(Abu-Elwan, 2007:2-5)
Dari uraian di atas, tampak bahwa keterlibatan siswa untuk turut belajar dengan cara menerapkan model pembelajaran problem posing merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Siswa tidak hanya menerima saja materi dariguru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri. Hasil belajar tidak hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan tetapi juga meningkatkan keterampilan berpikir. Kemampuan siswa untuk mengerjakan soal-soal sejenis uraian perlu dilatih, agar penerapan model pembelajaran problem posing dapat optimal. Kemampuan tersebut akan tampak dengan jelas bila siswa mampu mengajukan soal-soal secara mandiri maupun berkelompok. Kemampuan siswa untuk mengerjakan soal tersebut dapat dideteksi lewat kemampuannya untuk menjelaskan penyelesaian soal yang diajukannya di depan kelas. Dengan penerapan model pembelajaran problem posing dapat melatih siswa belajar kreatif, disiplin, dan meningkatkan keterampilan berpikir siswa.

Dapatkan Uang dengan Join disini, GRATIS

Dukungan ku pada Indonesia

Cari Uang di Internet, klik disini

 

Sample text

Sample Text

Sample Text